Tampilkan postingan dengan label Pancasila. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pancasila. Tampilkan semua postingan

Pancasila

FPI-Online.com - Jakarta,
 
Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sanskerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan tercantum pada paragraf ke-4 Preambule (Pembukaan) Undang-undang Dasar 1945.

Sumber http://www.fpi-online.com

Inilah Pandangan FPI Terhadap Islam Dan Pancasila

Senin, 22 Januari 2018

FPI-Online.com - Jakarta,  Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab memanfaatkan momentum Simposium Nasional yang digelar di Balai Sarbini, Jakarta Selatan, Rabu (1/6) untuk mengklarifikasi terkait keikutsertaan FPI dalam simposium tersebut.

"Ada yang mengatakan, kenapa FPI ikut simposium, FPI kan anti Pancasila, FPI kan radikal, FPI kan anarkis, dan seterusnya. Oleh karena itu momentum ini akan saya manfaatkan untuk menjawabnya," ujar Habib Rizieq dihadapan peserta simposium yang banyak dihadiri tokoh dan purnawirawan TNI.

Dalam kesempatan itu ia menjelaskan bagaimana pandangan FPI tentang Islam dan Pancasila.

Menurutnya, Islam adalah aqidah sedangkan Pancasila adalah ideologi. Aqidah datang dari sumber ilahi, tidak bisa ditawar dan sudah merupakan harga mati yang menjadi keyakinan, sedangkan ideologi adalah sumber insani datang dari ide-ide manusia

"Islam sebagai aqidah menolak semua ideologi yang bertentangan dengan ajaran Islam. Lalu apakah Pancasila bertentangan dengan Islam?"

"Andaikata bertentangan, wajib bagi kami sebagai umat Islam untuk menolaknya. Tetapi jika tidak bertentangan, maka tidak ada alasan bagi kami sebagai warga negara untuk menolaknya," terangnya.

Ia menjelaskan, secara garis besar ideologi di dunia ini terbagi tiga kelompok, yang pertama ideologi yang mengakui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa dan berkuasa mengatur urusan dunia dan akhirat. Kedua, ideologi yang mengakui tuhan itu ada tapi tidak mengakui kekuasaan Tuhan untuk mengatur kehidupan dunia, Tuhan hanya dianggap untuk urusan akhirat saja. Lalu yang ketiga, ideologi yang menolak keberadaan Tuhan apalagi kekuasaan Tuhan.

"Lalu Pancasila masuk kelompok mana? kalau ideologi yang ketiga itu sudah jelas yaitu atheisme, komunisme, lenimisme dan marxisme. Sedangkan ideologi kedua adalah sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan."

"Kalau kita memperhatikan UUD 45,  ditegaskan bahwa Indonesia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dan pada pasal 29 ayat 2 ada jaminan dari negara bahwa tiap pemeluk agama bebas melaksanakan ajaran agamanya sesuai keyakinan masing-masing. Dengan demikian Pancasila tidak bertentangan dengan Islam dan harus diasuh oleh umat Islam," jelas Habib Rizieq.

"Maksudnya diasuh adalah umat Islam selaku mayoritas di negeri ini harus menjaga Pancasila jangan sampai ditafsirkan dengan berbagai macam cara untuk diselewengkan. Dengan itu, kita bisa melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa," tambahnya.

Jadi dasar negara Indonesia itu jelas berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sehingga segala bentuk perbuatan dan semua jenis pemahaman yang bertentangan dengan nilai-nilai melawan ketuhanan, tidak boleh ada di seluruh wilayah NKRI.

"Juga yang namanya komunisme, atheisme, lenimisme, marksisme itu tidak boleh ada di NKRI. Termasuk sepilis (sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme) yang difatwakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga tidak boleh,"

"Kemudian bentuk-bentuk perbuatan seperti korupsi, riba, miras, judi, prostitusi, kriminal, bahkan terorisme itu juga bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan sehingga tidak boleh ada di NKRI," tandas Habib Rizieq.

Sumber: Suara Islam

Sumber http://www.fpi-online.com

Sejarah Pancasila

Selasa, 22 Januari 2019


FPI-Online.com - Jakarta,


a. Tgl 1 Juni 1945 :
Bung Karno mengusulkan ISTILAH PANCASILA sebagai Dasar Negara, lalu diterima oleh Trio Ulama Pendiri Bangsa : KH Wahid Hasyim (NU) dan KH Abdul Qohar Mudzakkir (Muhammadiyah) serta KH Agus Salim (Syarikat Islam) dan seluruh anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). 

b. Tgl 1 Juni 1945 :
Bung Karno mengusulkan TEKS PANCASILA dengan redaksi : 
1. Kebangsaan Indonesia. 
2. Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan. 
3. Mufakat atau Demokrasi. 
4. Keadilan Sosial. 
5. Ketuhanan.
Namun ditolak Trio Ulama Pendiri Bangsa, karena Ketuhanan jadi "Sila Buntut" dan istilah Musyawarah diganti "Demokrasi". 

c. Tgl 22 Juni 1945 :
Trio Ulama Pendiri Bangsa bersama Bung Karno dan seluruh anggota BPUPKI sepakat Pancasila sebagai Dasar Negara dengan redaksi : 
1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. 
2.Kemanusiaan yang adil dan beradab. 
3. Persatuan Indonesia. 
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan. 
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Inilah yang disebut PIAGAM JAKARTA sebagai KONSENSUS NASIONAL Para Pendiri Bangsa dan Negara Indonesia. 

d. Tgl 18 Agustus 1945 : Sidang PPKI (Panita Persiapan Kemerdekaan Indonesia) tanpa kehadiran Trio Ulama Pendiri Bangsa, memutuskan dan menetapkan bahwa Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia dengan redaksi : 
1. Ketuhanan Yang Maha Esa.  2.Kemanusiaan yang adil dan beradab. 
3. Persatuan Indonesia. 
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan. 
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 

e. Trio Ulama Pendiri Bangsa akhirnya menerima putusan PPKI, karena walau pun klausul SYARIAT dihapus, namun diganti dengan klausul TAUHID yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa yang tidak lain dan tidak bukan adalah ALLAH SWT.


Sumber http://www.fpi-online.com

Maklumat Penting Front Pembela Islam Menghadapi Situasi Politik Saat Ini

MAKLUMAT FPI

Menghadapi situasi dan kondisi politik yang tidak menentu serta dalam upaya menjaga keselamatan agama mau pun keutuhan bangsa dan negara, maka Front Pembela Islam memberikan maklumat kepada umat, khususnya ke jajaran pengurus FPI, LPI dan sayap juangnya, untuk ; 

1. Menyiapkan kondisi Siaga 1 untuk menghadapi segala kemungkinan skenario terburuk. Termasuk didalamnya adalah membaca hizb nashir dan berdo'a memohon kepada Allah SWT agar memberikan pertolongan kepada umat Islam, bangsa dan negara.

2. Mengamankan suara pemilih untuk pemenangan capres hasil Ijtima Ulama, termasuk bila diperlukan dengan menjadi saksi di tiap TPS dan PPK.

3. Menjaga dan mengawal kotak suara hingga ke PPK agar tidak terjadi manipulasi mau pun kecurangan yang bersifat terstruktur, sistematis dan massif.

4. Menjaga dan mengawal keselamatan ulama dan para pemilih yang menjalankan hak politiknya.

5. Melawan segala bentuk kecurangan dalam Pilpres dan Pileg 2019.
Demikian maklumat ini dibuat agar menjadi perhatian kita semua.



Jakarta, 11 Sya’ban 1440 H / 16 April 2019 M
Dewan Pimpinan Pusat – Front Pembela Islam

KH. Ahmad Shabri Lubis, S.Pd.I
Ketua Umum

H. Munarman, SH
Sekretaris Umum

Mengetahui,
Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab, Lc, MA
Imam Besar

Sumber http://www.fpi-online.com

Habib Hanif ke Yahya Tsaquf : kunjungan Anda ke Israel Menyakiti Umat Islam

FPI-Online.com - Pasuruan, Dalam rangka milad  yang ke 282 tahun, Ponpes Sidogiri  Pasuruan menggelar Seminar Ilmiah dengan tema " Rahmatan lil Alamin dalam bingkai Amar Makruf Nahi Munkar". Senin, 22 April 2019.

Dalam Seminar tersebut, pantia menghadirkan Habib Hanif Alathas, Lc Sebagai Narasumber yang mewakili FPI,   DR. M Saad Ibrahim sebagai perwakilan Muhammadiyyah dan KH Yahya Cholil Tsaquf sebagai perwakilan NU.

Usai pemaparan dari ke 3 narasumber, sesi tanya jawab yang sangat ditunggu oleh semua peserta dibatalkan oleh panitia dengan alasan keterbatasan waktu. Meski demikian ternyata perbincangan yang disaksikan banyak orang berlanjut sampai ke ruang makan.

Dalam perbincangan tersebut, Habib Hanif mempersoalkan beberapa hal  yang pernah dilakukan oleh Yahya Cholil Tsaquf yang belum lama ini  menghadiri sebuah Forum di Israel.

" Kunjungan antum ke Israel, apalagi duduknya begitu Mesra,, jangankan kita Umat Islam yg di Indonesia, Saudara-saudara kita yang di Palestina sakit  hati luar biasa dengan Kunjungan itu, mereka ramai-ramai mengeluh ke Kami yang ada di Indonesia, kunjungan antum menyakiti Umat Islam ! "   Tegas Habib Hanif.

Gus Yahya menjawab bahwa kunjungannya ke Israel untuk mencari solusi, karena orang Yahudi sendiri di berbagai tempat merasa menjadi sasaran kemarahan Umat Islam akibat apa  yang dilakukan  Israel terhadap Palestina. Meskipun faktanya, sebagaimana kita ketahui pada pertemuan tersebut Gus Yahya sama sekali tidak membahas tentang pembelaan terhadap Palestina, justru malah cenderung menyalahkan sebagian ajaran Islam  pada forum tersebut.

Habib Hanifpun menegaskan kembali bahwa yang dilakukannya itu menyakiti Umat Islam. Habib juga menyayangkan bahwa sikap Gus Tsaquf kepada sesama Umat Islam yang beda kelompok berbanding terbalik dengan sikapnya kepada Israel yang begitu mesra. " Kenapa dengan Israel begitu santun tapi dengan sesama muslim yang hanya beda pandangan atau kelompok sangat jauh,, seakan-akan adalah Islam Harbi " ungkap Habib Hanif.

Disamping itu beliau juga mempertanyakan nyinyiran Gus Tsaquf dalam status FBnya yang berbarengan dengan kunjungan  Habib Umar bin Hafidz, menurut Habib Hanif hal tersebut sangat menyakiti para habaib dan Pecinta habaib karena Habib Umar merupakan salah satu tokoh  rujukan dan panutan saat ini.

Gus Yahya menjawab bahwa status itu beliau tujukan kepada Da'i-Da'i  dari berbagai Negara seperti Yordania, Suriah, dll yang datang berceramah di wilayah Rembang dan sekitarnya. Menurut Yahya masyarakat pedesaan juga tidak faham apa yang disampaikan mereka sehingga hanya menjadi tontonan saja.

Lalu salah satu tokoh yang ada di forum tersebut mengatakan bahwa apapun alasannya,  status itu ditulis berbarengan dengan momen kedatangan Habib Umar bin Hafidz ke Indoesia, sehingga sangat sulit untuk melepaskan keduanya. Wajar kalau hal tersebut membuat para pecinta ulama dan habaib marah.

Habib Hanif juga menyoal pernyataan Gus Tsaquf dalam salah satu ceramahnya yang mengatakan bahwa Islam kita ini beda dengan Islam Arab, Islam kita Islam Nusantara,  kalau Islam arab datang dengan cara menjajah.

"Kalau Islam Arab dibawa datang dengan cara Menjajah, memang yang menyebarkan Islam di Arab itu siapa ? Yang menyebarkan itu langsung Rosulullah saw, Sahabat Nabi saw dan para tabi'in. Berarti mereka penjajah dong ? Ini fatal sekali Gus "   tegas Habib Hanif.

Lagi-lagi Gus Tsaquf menjawab bahwa jika melihat sejarah, dahulu itu penjajahan adalah hal yang biasa,  penjajahan baru dihapuskan  setelah perang dunia ke dua, sehingga saat itu penjajahan tidak menjadi masalah, sekarang saja yang bermasalah.

Mendengar hal itu habib Hanif Menegaskan bahwa apapun alasannya  kalimat penjajah tidak boleh dan sangat tidak pantas dinisbatkan kepada Nabi saw dan Sahabatnya.

Usai makan siang, saat diwawancarai wartawan Faktakini.com Habib Hanif Menegaskan " Saya tidak ada masalah dengan NU,  namun masalah saya dengan mereka yang menyakiti hati Umat Islam Khususnya Palestina ".

Sumber : faktakini.com
Sumber http://www.fpi-online.com